Cuaca panas ekstrem melanda sebagian Eropa dan India, memicu peringatan gelombang panas, rekor suhu, hingga laporan kematian yang diduga berkaitan dengan suhu tinggi dan insiden tenggelam. Di Inggris, suhu bahkan mencapai 35,8 derajat Celsius di Kew Gardens, London, pada Senin (25/5/2026).
Gelombang panas tersebut membuat sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan. Di Inggris dan Prancis, laporan warga tenggelam bermunculan seiring meningkatnya aktivitas masyarakat untuk meredakan suhu panas.
London juga mencatat fenomena yang disebut “malam tropis”, yakni kondisi ketika suhu malam hari tidak turun di bawah 20 derajat Celsius.
Rekor Suhu Pecah di Inggris dan Prancis
Lembaga meteorologi Inggris, Met Office, memperkirakan suhu di bagian selatan Inggris dapat mencapai 35 derajat Celsius pada pertengahan pekan ini. Pada Senin (25/5/2026), Inggris mencatat suhu Mei terpanas dengan 35,8 derajat Celsius di Kew Gardens, London. Angka itu melampaui rekor sebelumnya, yakni 32,8 derajat Celsius yang tercatat pada 1922 dan 1944.
Cuaca panas ekstrem juga melanda Prancis. Suhu di negara itu pada hari yang sama mencapai 36 derajat Celsius. Namun, sebagian wilayah masih mencatat suhu malam di bawah 20 derajat Celsius.
Badan meteorologi Prancis, Meteo-France, menyebut lonjakan suhu dipicu fenomena kubah panas atau heat dome. Fenomena ini terjadi ketika sistem cuaca bertekanan tinggi mengurung panas di suatu wilayah, sehingga suhu udara dapat melonjak drastis hingga 10 derajat Celsius di atas normal.
Gelombang Panas Tingkatkan Risiko Kesehatan
Para pakar menyebut pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas. Cuaca ekstrem yang terjadi pada waktu tidak biasa dan di wilayah yang tidak lazim dinilai membuat lebih banyak orang berisiko terdampak.
Gelombang panas tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga dapat mendorong warga mengambil tindakan berisiko untuk meredakan suhu tubuh.
Di Inggris, kepolisian melaporkan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah waduk di Halifax pada Senin (25/5/2026).
Sementara itu, juru bicara kepolisian Prancis, Maud Bregeon, mengatakan terdapat laporan tujuh kematian yang diduga berkaitan dengan suhu panas. Kasus tersebut meliputi lima insiden tenggelam dan dua kematian saat kompetisi olahraga.
Cuaca Panas Ekstrem Lumpuhkan Aktivitas di India
Gelombang panas tidak hanya terjadi di Eropa. Di India, cuaca panas ekstrem membuat sejumlah jalan dan pasar di New Delhi tampak lengang pada pekan lalu. Sebagian pedagang memilih berjualan pada malam hari untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi.
Departemen Meteorologi India memperingatkan gelombang panas masih akan bertahan di sejumlah daerah selama beberapa hari. Peringatan itu dikeluarkan saat suhu berada di atas rata-rata musiman.
Pihak berwenang India meminta warga tetap berada di dalam ruangan selama jam-jam terpanas dan mengambil langkah pencegahan untuk menghindari penyakit akibat serangan panas.
Pekan lalu, India mengumumkan gelombang panas telah menaikkan suhu udara hingga di atas 40 derajat Celsius di dataran rendah dan 30 derajat Celsius di dataran tinggi.
Dampaknya terasa pada kehidupan sehari-hari warga. Jalan-jalan dan pasar di Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India, terlihat sepi. Banyak toko tutup karena warga memilih bertahan di dalam ruangan saat suhu mencapai puncaknya.
Sekolah Diliburkan, Tenda Pendingin Disiapkan
Cuaca panas ekstrem juga mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Pihak berwenang India mengumumkan liburan musim panas lebih awal dan meliburkan sejumlah kelas setelah suhu mencapai 48,2 derajat Celsius di Kota Banda.
Petugas kesehatan mengimbau warga menghindari aktivitas luar ruangan pada tengah hari, menjaga tubuh tetap terhidrasi, dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala seperti pusing atau demam tinggi.
Di New Delhi, warga dan turis bertahan dari gelombang panas dengan singgah di tenda-tenda berpendingin yang didirikan di sejumlah titik. Tenda tersebut menyediakan pendingin ruangan, kipas angin, air minum, dan obat rehidrasi oral untuk membantu warga yang terdampak serangan panas.
Di salah satu tenda, warga terlihat beristirahat di dekat pendingin udara, sementara petugas membagikan air yang dicampur garam rehidrasi.
“Kami datang ke sini untuk jalan-jalan. Tapi di sini terlalu panas. Sistem pendingin di sini sangat membantu kami,” kata seorang turis berusia 25 tahun, Basharat Ahmad Malla.